Kasus Campak Meningkat, Dinkes Bulukumba Percepat Imunisasi Kejar Anak

Kasus Campak Meningkat, Dinkes Bulukumba Percepat Imunisasi Kejar Anak

Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Bulukumba — Pemerintah Kabupaten Bulukumba melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) meningkatkan kewaspadaan terhadap lonjakan kasus penyakit campak yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan hasil surveilans dan investigasi epidemiologi, peningkatan kasus tersebut dipengaruhi oleh masih adanya kesenjangan cakupan imunisasi rutin di tengah masyarakat.

Kondisi ini berdampak pada menurunnya kekebalan kelompok (herd immunity), sehingga meningkatkan risiko penularan, khususnya pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Sebagai langkah respons cepat terhadap potensi Kejadian Luar Biasa (KLB), Dinkes Bulukumba menggelar program imunisasi kejar (catch-up immunization) secara serentak.

Program ini merupakan bagian dari strategi nasional pengendalian campak yang juga dilaksanakan di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, seperti Maros, Luwu Timur, dan Jeneponto.

Kepala Dinas Kesehatan Bulukumba, dr. Amrullah, menegaskan bahwa imunisasi merupakan intervensi kesehatan masyarakat paling efektif dalam mencegah penularan campak.

“Peningkatan kasus campak ini menjadi perhatian serius. Imunisasi adalah langkah paling efektif untuk melindungi anak-anak dari risiko penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi,” ujar dr. Amrullah, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan, pelaksanaan imunisasi kejar ditargetkan rampung pada April 2026 dengan total sasaran mencapai 8.925 anak. Rinciannya, sebanyak 1.004 anak untuk imunisasi campak dosis pertama (MR1), 886 anak untuk dosis kedua (MR2), serta 7.035 anak pada kelompok siswa kelas 1 Sekolah Dasar.

Hingga saat ini, capaian imunisasi menunjukkan progres yang cukup signifikan, meskipun masih memerlukan percepatan.

Untuk MR1 tercatat 773 anak atau 76,9 persen, MR2 sebanyak 639 anak atau 72,2 persen, serta imunisasi MR pada siswa kelas 1 SD mencapai 5.863 anak atau 83,4 persen.